SUARAFLORES.NET,–Jelang pemilu ke -12 dalam lembaran sejarah pemilu Indonesia pada 17 April 2019 nanti, para calon anggota DPR-RI dari Dapil NTT I kini bertarung keras. Pertarungan Caleg-caleg dari partai-partai besar, yakni PDIP, Golkar, NasDem, Demokrat, Gerindra, Hanura), kini kian memuncak seantero Pulau Flores, NTT. Berbagai strategi dan taktik pun terus dilancarkan demi memenangkan perolehan suara dan mempertahankan dominasi politik di Senayan, Jakarta.
Meneropong dan mengamati pergerakan caleg-caleg hebat nan kuat di Dapil NTT I, seperti diberitakan media ini beberapa waktu lalu, tercatat ada 10 nama Caleg DPR-RI dari parpol besar (PDIP, Golkar, NasDem, Demokrat, Gerindra, dan Hanura) yang berpeluang besar lolos ke Senayan. Para caleg-caleg kuat tersebut, antara lain Melchias Markus Mekeng dan Honing Sannya (Partai Golkar), Andreas Gugo Pareira dan Frans Lebu Raya (PDIP), Jhoni G. Plate, Kristo Blasin dan Julie Laiskodat (Partai NasDem), Benny K. Harman (Partai Demokrat), Pius Lustrilanang (Partai Gerinda) dan Petrus Selestinus ( Partai Hanura).
Dari 10 nama caleg tersebut, sebanyak 5 caleg adalah caleg incumbent, di mana Melchias Mekeng telah 2 kali berturut-turut menjadi anggota DPR-RI, Benny K. Harman dua kali menjadi anggota DPR-RI, Pius Lustrilanang dua kali menjadi anggota DPR-RI, Andreas Hugo Pareira 1 kali menjadi anggota DPR-RI dari Flores, dan Jhonny G. Plate 1 kali menjadi anggota DPR-RI serta Honning Sanny 1 kali menjadi anggota DPR-RI. Sementara sisanya, pemain lama yang bakal berhasil, yaitu Petrus Selestinus ( Partai Hanura), dan pemain baru, yaitu Kristo Blasin dan Julie Laiskodat ( Partai NasDem) serta Frans Lebu Raya (PDIP).
Melihat dinamika arus politik di tengah masyarakat Flores, sembari menghitung kekuatan struktur partai, mencermati amunisi tempur, popularitas di masyarakat maupun dijagad media mainstream dan jagad media sosial, serta pengalaman tempur di medan politik, dan dinamika politik nasional saat ini, ada tiga caleg kuat yang diprediksi masih sulit digeser, yaitu Melchias Mekeng, Jhoni Plate dan Andreas Hugo Pareira. Tiga jagoan dari partai berkuasa ini bakal kembali mempertahankan kursinya dalam ajang Pileg 2019 ini.
Meski begitu, dari tiga jagoan tersebut, Jhoni Plate dan Andreas Hugo harus berjuang sekeras-kerasnya, karena persaingan internal di partai mereka sangat kencang. Mengapa? Jhoni Plate yang kini menjadi Sekjend Partai NasDem dan Ketua Fraksi NasDem di DPR-RI mengalami ancaman besar dengan tampilnya dua caleg kuat, istri Gubernur NTT Viktor Laiskodat, Juliane Sutrisno Laiskodat dan Kristo Blasin yang juga didukung penuh oleh Laiskodat, tokoh paling berpengaruh di tubuh Partai NasDem.
Sementara itu, Andreas Hugo Pareira juga harus mati-matian bekerja keras karena selain menghadapi seteru dari partai lain, ia juga berhadapan dengan seteru di internal PDIP, yaitu Ketua DPD PDIP NTT yang juga Mantan Gubernur NTT 2 periode, Frans Lebu Raya. Bukan itu saja, baik Andre maupun Frans juga belum aman karena mengalami ancaman besar dari Kristo Blasin dan Honing Sanny (seteru politik lama). Meski kedua tokoh politik ini telah pindah partai, Honing di Golkar dan Kristo di NasDem, tetapi ke empat tokoh itu memiliki basis pendukung yang sama yaitu basis PDIP di Flores.
Ruang politik dengan rongga konflik lama yang kian menjadi dendam politik membara akhir-akhir ini, bakal membuka cela besar bagi Petrus Selestinus dari Partai Hanura untuk masuk menggerogoti kursi mereka. Bahkan bukan tidak mungkin menjadi jalan terbuka bagi Partai Golkar untuk memuluskan ambisinya meraih 2 kursi DPR-RI. Apalagi, Melchias Mekeng dan Ketua DPD I Golkar NTT, Melky Lakalena jauh-jauh hari sudah memproklamasikan Partai Golkar akan meraih 2 kursi. “Kami yakin akan meraih 4 kursi DPR-RI, 2 kursi di Dapil NTT I dan 2 kursi di Dapil NTT 2. Hal ini sesuai dengan hasil survey yang kini menjadi target bidik Golkar,” kata Lakalena belum lama ini.
Meski begitu, baik Jhoni maupun Andre Pareira, dua pemain politik ujung tombak di Senayan ini, tentunya tidak akan mudah melepaskan kursinya direbut caleg-caleg lain. Apalagi dua partai penguasa ini pun sudah mematok target masing-masing 2 kursi. Hal ini seperti disampaikan Sekretaris DPW NasDem NTT, Alexander Ofong dan politisi senior PDIP yang paling berpengaruh di DPP PDIP, Herman Hery beberapa waktu lalu. Meskipun tidak menyebut masing-masing kursi itu milik siapa, tapi keduanya mengaku sangat yakin berdasarkan perhitungan dan kajian politik partai, mereka sangat optimis meraihnya.
Lalu bagaimanakah nasib kursi Benny K. Harman (Partai Demokrat) yang kini di duduki Josep Badeoda, dan bagaimanakah peluang Pius Lustrilanang (Partai Gerindra) yang sudah dua periode di Senayan? Benny K. Harman sang mantan Ketua Komisi III DPR-RI ini tengah mengalami masa suram dalam kariernya. Mengapa? Ia dua kali kalah dalam pertarungan Pilgub di NTT dan tercatat mengundurkan diri dari anggota DPR-RI karena maju di Pilkada NTT 2018 lalu. Kali ini Benny vokalis Partai Demokrat ini harus berjibaku hidup mati jika ingin kembali merebut kursinya dari tangan Josep Benediktus Badeoda yang kini menjabat Anggota Komisi III DPR-RI.
Selain bersaing sekuat tenaga melawan Jhoni Plate, Andreas Hugo Parera, Melchias Mekeng, dan caleg-caleg DPR-RI lainnya dari tiga kabupaten di Manggarai, dia juga harus bersaing suara melawan Yos Badeoda. Tidak mudah, karena Josep sendiri sudah lama bekerja keras, sejak kursi Benny diserahkan kepadanya (PAW). Josep bahkan mengaku kepada Suaraflores.Net beberapa waktu lalu, bahwa ia pasti lolos ke DPR-RI mewakil rakyat Flores dari Partai Demokrat. “Untuk merebut kursi ke Senayan, saya telah memperkuat tim pemenangan untuk kerja meraih satu kursi di DPR RI. Melalui komitmen dan kerja keras untuk mewakili rakyat Flores, Lembata dan Alor, saya mengharapkan dukungan besar dari rakyat,” tegasnya beberapa bulan lalu.
Sementara itu, Pius Lustrilanang sang politisi Partai Gerindra yang dua periode didukung rakyat Flores, tampak bermain tanpa beban dalam gerakan politik senyap. Aktivis ’98 pendukung setia Capres Prabowo Subiyanto ini, bergerlya senyap di akar rumput dan sangat jarang tampil di media. Ia berpeluang besar lolos lagi ke Senayan karena tidak memiliki pesaing kuat di internal partainya. Ia hanya mengatur strategi khusus untuk mempertahankan kursinya. Meskipun ia caleg yang berasal dari luar NTT, arus dukungan kepadanya tetap ada. Hal ini terbukti dari suara lantang yang disampaikan para kader Gerindra dan relawan Pius di Flores bahwa Pius pasti kembali lagi ke Senayan karena sudah berbuat untuk rakyat.
“Kami sangat optimis rakyat masih memilih Pius Lustrilanang. Pasalnya, selama ini sebagai wakil rakyat di DPR RI, Pius Lustrilanang telah banyak memberikan perhatiannya kepada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar rakyat, terutama di bidang kesehatan dan infrastruktur dasar lainnya. Sebut saja, bagaimana upaya beliau membangun rumah sakit di Larantuka dan Pulau Adonara,” kata Antonius dan Petrus Dopi Liwu, relawan dan kader Partai Gerindra di Flores Timur,” Senin (25/3/2019) lalu.
Namun demikian, baik Benny K. Harman, Josep Badeoda dari Partai Demokrat, dan Pius Lustrilanang dari Partai Gerindra pengusung Calon Presiden dan Wakil Presiden, Prabowo Subiyanto dan Sandiaga Uno ini, tampak harus pandai membela arus politik Flores karena badai politik Pilpres dan Pileg 2019 yang berbarengan, menjadi ancaman serius karena animo politik warga kepada partai-partai besar (PDIP, Golkar, NasDem, Hanura dan lain-lain) pengusung Calon Presiden dan Wakil Presiden Joko Widodo dan Maaruf Amin yang sangat fanatik dan kuat. Meskipun figur tokoh masih menjadi pilihan publik, namun belum bisa dipungkiri jika kiblat politik nasional kedua patai tersebut telah menjadi diskusi seru masyarakat di Flores.
Melihat gerakan operasi politik dalam perang besar perebutan kursi DPR-RI di Dapil Flores, tercatat media ini, sosok Petrus Selestinus (Partai Hanura), meski tidak banyak diperhitungkan para seterunnya dari partai lain, ia dapat menjadi ‘kuda hitam’ dalam Pileg 2019 kali ini. Dalam berita media ini, Advokad Peradi dan Koodinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) serta mantan politisi PDI dan PDP ini tampak menjadi ancaman serius, baik bagi caleg-caleg baru baik caleg-caleg di partai-partai pendukung Joko Widodo- Maruf Amin maupun lebih berbahaya lagi bagi caleg-caleg dari parpol pendukung Prabowo- Sandiaga Uno.
Gerakan Petrus yang keras dan lantang dalam mengangkat isu-isu korupsi, kasus-kasus hukum dan Ham serta mengangkat isu radikalisme dan terorisme di NTT melalui tenda dan panggung ‘Dialog Kebangsaan’ telah menarik perhatian besar rakyat yang kemudian bersimpati kepadanya. Mendapat dukungan dan pengakuan para tokoh, Petrus mengaku yakin Partai Hanura dapat meraih kursi DPR-RI dari Dapil NTT I. “Saya sangat yakin Partai Hanura akan meraih kursi di DPR-RI. Dan saya sudah siap mewakili rakyat Flores yang selalu menginginkan perubahan dan bebas dari korupsi,” tegas Selestinus di Jakarta.
Melihat riak-riak panas ‘operasi politik senyap’ lokal sambil berkaca pada pertarungan dua kubuh besar parpol-parpol di tingkat nasional, maka diprediksi partai-partai besar pendukung pemerintah yang berkuasa saat ini bakal lebih memiliki ruang dan peluang besar untuk mendominasi kursi-kursi DPR-RI dari Dapil NTT I. Sebut saja PDIP, Golkar, NasDem dan Hanura, yang sudah jauh-jauh hari mengkampanyekan mereka akan memenangi pertarungan dengan meraih kursi DPR-RI. Dimana, Golkar sesuai target bakal meraih 2 kursi, NasDem 2 kursi, PDIP bisa saja 1 kursi, dan sisa 1 kursi lagi bakal diperebutkan Partai Hanura, Gerindra dan Demokrat. Dinamika ini masih akan terus berubah seiring memanasnya ‘operasi politik senyap’ yang dilancarkan para caleg di tengah lembah, pegunungan, pantai dan pinggiran kota di seluruh Pulau Flores. (bungkornell/suaraflores.com)