Enam PAUD di TTU Produksi APE Berbahan Lokal

Enam PAUD di TTU Produksi APE Berbahan Lokal

ENAM lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) yang tersebar di lima desa di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai mengembangkan bahan pembelajaran yang berbiaya murah dengan mengandalkan barang bekas dan bahan lokal lainnya. Pemanfaatan bahan lokal ini digagas oleh Plan Indonesia Program Unit Kefamenanu melalui kegiatan Workshop Learning Material and Child Protection in ECCD Center for Caregivers yang berlangsung selama empat hari di Hotel Livero Kefamenanu, sejak tanggal 30 Juli hingga 2 Agustus 2013 pekan lalu.

Dalam workshop yang dibuka oleh Pimpinan Plan Indonesia PU Kefamenanu, James Balo, tersebut, para pendidik PAUD terlibat aktif dengan membawa bahan-bahan bekas seperti gardus, tutupan botol, botol, kaleng, potongan kayu, kertas dan lainnya. Para peserta selain memproduksi juga dilatih bagaimana cara pemanfaatan mainan yang bisa menstimulasi semua aspek perkembangan anak. Para peserta yang mengikuti workshop ini terdiri dari 22 orang berasal dari PAUD Mawar Desa Teba, PAUD Harapan Baru Desa Oekopa, PAUD Tabah Mandiri dan PAUD Ratu Rosari Desa Hauteas, PAUD Purnama Desa Biloe dan PAUD Kamboja Desa Taunbaen.

Pimpinan Plan Indonesia Program Unit Kefamenanu, James Balo, di awal kegiatan tersebut, mengajak peserta untuk merenungkan apa yang dihadapi setiap hari dalam kehidupan ini karena pasti masih banyak anak-anak yang kurang beruntung di sekitarnya.

“Kegiatan ini adalah rasa kepedulian Plan untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung. Plan yakin masyarakat memiliki kemampuan untuk membantu anak-anak kurang beruntung namun masih belum memiliki pengetahuan dan keterampilan. Dan masyarakat belum memiliki inisiatif dalam membantu anak-anak dalam bidang pendidikan atau kesehatan untuk anak-anak usia dini. Plan menginginkan orangtua mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang baik dalam mendidik anak-anak usia dini kemudian berinisiatif mengajak orangtua yang lain untuk mengembangkannya, “kata James.

Sementara itu, penanggung jawab kegiatan, Silvester Nusa, mengatakan, penyelenggaraan workshop dilakukan atas dasar studi awal di lima desa pilot pengembangan PAUD Berbasis Masyarakat pada tahun 2012 lalu. Dalam studi analisis tersebut ditemukan banyak anak yang tidak bisa mengakses posyandu dan PAUD, ada anak yang mengulang kelas dan drop out serta rendahnya kwalitas pembelajaran di PAUD maupun di kelas rendah Sekolah Dasar. Rendahnya kwalitas ini juga disebabkan oleh rendahnya dukungan orang tua atau keluarga dan pemerintah desa.

“Ada desa yang memiliki PAUD dan kegiatan berjalan setiap hari tetapi orang tuanya tidak pernah berkontribusi, bahkan ada desa seperti Oekopa itu beberapa tahun sebelumnya ada PAUD tetapi sudah tidak berjalan bahkan bangunannya sudah rubuh. Dasar inilah menginsipirasi kami untuk mengembangkan PAUD dengan menggunakan sumber daya lokal yang bernilai tinggi dan berdampak besar pada pengembangan potensi anak, “ujar Nusa menjawab media ini di sela-sela.

(CE/ BK)

 

Comments

Scroll To Top